Page 13 - Berita Karmel Desember 2025
P. 13
cahaya, pembangunan, atau modernisasi. Kehidupan mereka yang
sederhana, tetapi penting bagi ekosistem, sering kali diabaikan.
Mentalitas ini tidak hanya berlaku dalam hubungan kita dengan
alam, tetapi juga dalam hubungan spiritual kita. Ketika kita terbiasa
mengorbankan hal-hal kecil yang tampak tidak penting, kita tanpa
sadar menggerus spiritualitas kita. Dalam hidup religius, misalnya,
seseorang mungkin berpikir bahwa doa-doa kecil, perhatian pada detail,
atau kesetiaan pada tugas sederhana tidak sepenting proyek besar atau
karya yang terlihat.
Padahal, kehidupan spiritual sejati tidak dibangun di atas hal-hal besar,
tetapi di atas kesetiaan pada hal-hal kecil. Mengabaikan apa yang tampak
remeh, baik itu dalam ekosistem alam maupun dalam spiritualitas, berarti
mengabaikan esensi dari apa yang menopang kehidupan itu sendiri.
Sama seperti kunang-kunang yang tampaknya kecil tetapi memainkan
peran penting dalam ekosistem, hal-hal kecil dalam hidup rohani juga
menjadi dasar dari panggilan kita.
Polusi Cahaya dan Polusi Spiritualitas
Polusi cahaya bukan hanya masalah lingkungan; itu adalah refleksi
dari bagaimana kita sering kali menciptakan “polusi spiritual”. Sama
seperti cahaya buatan mengaburkan keindahan malam dan merusak
kehidupan kunang-kunang, aktivitas yang berlebihan dan mentalitas
modern yang serba cepat sering kali mengaburkan keheningan dan
kedalaman spiritual kita.
Sebagai contoh, dalam kehidupan religius, ada godaan untuk selalu
aktif dan sibuk dengan karya-karya besar, hingga lupa pada esensi
panggilan: doa, keheningan, dan kesederhanaan. Kita menciptakan
“cahaya buatan” dalam bentuk ambisi pribadi, kesibukan tanpa henti,
atau pencapaian yang mencolok,
tetapi kehilangan cahaya sejati yang
berasal dari hubungan yang intim
dengan Tuhan.
Seperti kunang-kunang yang
kehilangan bahasanya, manusia
juga kehilangan kemampuan untuk
mendengar suara Tuhan dalam
keheningan ketika kita terlalu sibuk
Berita Karmel Edisi Desember 2025 | 10

